Kiprah Orang Kristen di Masa Indonesia Merdeka

Kiprah Gereja/ Orang Kristen di Masa Indonesia Merdeka 1945

Pengertian Kiprah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kiprah merupakan suatu gerakan cepat atau melakukan kegiatan berpartisipasi dengan semangat yang tinggi, yang bergerak di bidang politik untuk melaksanakan pembangunan.

lihat juga: 
Sejarah Kekristenan di Maluku
Sejarah Kekristenan di Orde Lama

Orang Kristen/ Gereja Menjelang Kemerdekaan Indonesia
Gereja di Indonesia pada masa ini penuh dengan catatan-catatan yang merisaukan. Peristiwa penganiayaan, penindasan, pembunuhan dan penderitaan lainnya yang dialami oleh bangsa Indonesia pada umumnya, lebih dirasakan Gereja selaku kelompok yang sangat dicurigai oleh jepang. Orang Kristen banyak dibunuh oleh orang  jepang dengan tuduhan bersekutu dengan pihak Belanda. Pada waktu itu Gereja-Gereja memikul tanggung jawab sepenuhnya, termasuk tanggung jawab atas segala pembiayaan.  Memang banyak orang Kristen mengalami penganiayaan berat, namun demikian kekristenan di Indonesia pun kendati baru belakangan disadari sedikit banyaknya memperoleh manfaat dari kedatangan Jepang. Kehadiran Jepang justru mempercepat proses persiapan Tokoh-tokoh Kristen Indonesia untuk mengembangkan Gereja yang sungguh-sungguh mandiri. Melihat hal ini, banyak tokoh-tokoh Kristen yang memberikan pernyataannya, seperti Mr. Amir Sjarifuddin, yang pada zaman Hindia-Belanda justru dikenal sebagai salah satu tokoh gerakan kebangsaan yang anti Jepang. Mengemukakan manfaat dari perubahan sejarah dan dunia baru yang ditimbulkan oleh pendudukan Jepang atas Asia, yaitu peluang untuk mewujudkan jemaat atau Gereja Indonesia yang asli dan mandiri. Amir berkata bahwa dunia atau zaman baru ini mendorong umat Kristen Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depannya. Perubahan yang dibawa oleh Jepang justru membawa tantangan dan peluang bagi umat Kristen dinegeri ini untuk memerdekakan diri dari imperialisme barat itu. Ditengah-tengah kesulitan yang terjadi pada orang kristen/Gereja pada masa Jepang, masa penuh kesulitan itu pula ada hikmatnya, diamana banyak orang Kristen mempersiapakan untuk pendewasaan Gereja yang berlangsung di masa kemudian.

Oleh masa-masa itu, Gereja di Indonesia adalah Gereja nasional dan orang Kristen berkewajiban membela bangsanya. Hal ini sudah dibuktikan dengan adanya penyerahan kepemimpinan Gereja dari badan zending ke tangan pemimpin Indonesia, untuk membuktikan bahwa Gereja di Indonesia sudah berdiri sendiri dan melepaskan ikatan-ikatan dari dominasi Gereja induknya. Usaha-usaha kearah kedewasaan dan pendewasaan jemaat di Indonesia menunjukkan pada dasarnya, bahwa umat Kristen Indonesia tidak memihak kepada Belanda. Pengalaman yang memimpa Gereja di masa pendudukan Jepang telah menempa Gereja menjadi lebih dewasa. Tekanan, hambatan serta segala macam pembatasan dikenakan pada Gereja, namun tidak berhasil melumpuhkan Gereja. Meskipun ditindas tetapi tidak terjepit, dianiaya tetapi tidak ditinggalkan oleh Tuhannya. Sebaliknya Gereja menjadi sadar akan hakekat keberadaannya di jalan dunia serta lebih memberi Tugas dan panggilannya, lebih berani mengabarkan Tuhan dan lebih mampu menanggung seluruh tanggung jawab sebagai Gereja yang benar-benar berdiri diatas kaki sendiri. Pengalaman dan kehidupan Gereja di masa pendudukan Jepang sangat menentukan dan mempengaruhi jalannya sejarah Gereja di Indonesia dalam masa ini. Dengan menyerahnya jepang pada tanggal 14 Maret 1945, berakhirlah penindasan, penganiayaan, dan penjajahan Jepang atas Indonesia. Bersamaan dengan itu, usaha dan semangat Bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air sudah mencapai tahap kematangan, yang bermuncak dengan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.